Tinder app. Cintaku dimana?

Beberapa kali sudah sering saya dengar tentang applikasi Tinder, akan tetapi baru setelah Lebaran ini, karena dicurhati kouhai yang lagi terlibat rumitnya asmara karena Tinder, saya benar-benar ngeh. Tinder adalah sebuah aplikasi yang diciptakan untuk para pengguna internet yang ingin menjalin hubungan: pertemanan, pacaran, ataupun hanya percakapan biasa (tergantung maksud individu masing-masing). Semacam makcomblang dalam bentuk aplikasi, Tinder ini benar-benar membantu mempertemukan banyak orang tanpa rasa takut privasi terusik.

Hanya karena ingin mendapatkan pengalaman dengan aplikasi ini, saya memutuskan untuk menginstal di smartphone saya. Aplikasi ini pada akhirnya akan menjadi aplikasi yang berbayar, dan tidak saya teruskan karena saya tidak benar-benar berniat untuk terlalu terlibat dalam pertinder-an.

Setelah awal install, aplikasi ini akan langsung meminta ijin untuk masuk dengan menggunakan akun facebook. Karena saya kurang suka mengkaitkan antara satu akun dengan akun yang lain (terlalu protektif terhadap diri sendiri ceritanya), awalnya saya tolak. Tetapi ternyata hanya itulah jalan yang bisa saya tempuh untuk bisa log in Tinder (mungkin saya melewatkan sesuatu). Dengan janji ikon kunci, dan pernyataan bahwa Tinder tidak akan post sesuatu ke akun facebook saya, terpaksalah saya masuk dengan menggunakan akun facebook.

Setelah masuk Tinder, akun otomatis terbentuk. Foto profilnya diambil dari akun facebook yang kita gunakan saat itu, dan beberapa foto yang mungkin mendapatkan banyak “like” di akun facebook kita. Harus diingat, untuk pengambilan foto profil dan beberapa foto yang ditampilkan dalam profil kita, Tinder tidak meminta ijin terlebih dahulu. Jadi apabila ada foto-foto yang dinilai tidak ingin anda share untuk orang-orang yang belum anda kenal, lebih baik setelah masuk aplikasi, segera cek foto-foto yang otomatis tertampilkan tersebut. Umur, hari lahir dan domisili anda juga akan langsung tertampilkan (padahal di facebook saya tidak menampilkan umur dan hari lahir).

Setelah masuk laman utama, saya langsung disuguhi foto-foto profil para lelaki yang berdomisili di sekitar saya (padahal saya belum nge-set relationship seperti apa yang saya inginkan, tetapi otomatis mereka mencarikan lelaki-lelaki, duh!). Karena saya tinggal di Jepang, maka kebanyakan wajah-wajah yang tersuguh (tersuguh!) adalah wajah-wajah lelaki Jepang. Sedangkan rentang umur dari para lelaki-lelaki tersebut adalah 19 tahun hingga 36 tahun. Hehe bagi wanita yang terlalu lama single, terlalu setia dan susah move on seperti saya, lelaki-lelaki dibawah 27 tahun menjadi terasa tabu :p, jadilah saya set ulang dari umur 27 tahun hingga 36 tahun. Saya juga tidak berpikir lelaki Jepang yang muda-muda berminat kepada wanita yang sudah mendekati tua ini :p

Yang menarik dari Tinder ini, ketika anda swipe foto para lelaki tersebut ke kanan, itu tandanya anda menyukai orang tersebut, lalu? Nantinya apabila lelaki tersebut juga menyukai anda (disini istilahnya “match”), anda dan dianya akan otomatis dibuatkan sebuah kolom private message. Kalau anda menggeser foto lelaki-lelaki tersebut ke kiri, itu diartikan anda tidak ada ketertarikan dengan lelaki tersebut. Dalam tinder ini geser-menggeser foto adalah poin utama (haha). Ketika anda menggeser foto-foto tersebut ke atas, tinder akan mengartikan bahwa Anda sangat menyukai orang tersebut.

Bagi saya yang terlalu konvensional, geser-geser ke kanan dan ke kiri menjadi sangat memalukan. Entah kenapa, tapi saya seperti menganggap aplikasi ini aplikasi serius. Jadi selama setengah jam saya hanya menggeser-geser ke kiri. Setelah saya menggeser foto-foto para lelaki tersebut ke kanan sekitar 25 kali? 30 kali? Saya kurang ingat. Aplikasi berbayarnya mulai muncul. Apabila saya ingin bisa melihat-lihat lagi foto-foto lelaki yang sudah saya geser kiri, atau saya ingin memperluas range wilayah hingga ke seluruh dunia, dan dengan bebasnya me-like foto2 tersebut, saya harus membayar 1300 Yen PERBULAN! Gila.

Tetapi melihat antusiasme pengguna, saya asumsikan banyak orang-orang merasa kesepian di dunia yang semakin marak ini. Banyak orang mencari-cari dimana cintanya berada. Entahlah.

Bagi saya, Tinder ini merupakan “cucu” dari YM (Yahoo messenger). Sama-sama mempertemukan orang-orang yang tadinya belum kenal ke dalam private message. Bedanya, Tinder ini terkesan lebih catchy, dan berkelas karena dia berbayar haha. Tinder juga bisa jadi benar-benar aplikasi yang memprioritaskan penampilan, karena kita dinilai dari foto.

Oleh sebab itu, saya tidak merekomendasikan aplikasi ini kepada orang-orang yang sudah punya pasangan :p dengan alasan apapun, juga kepada orang yang tidak memiliki uang, janganlah mencobai, atau kepada orang-orang yang tidak menyukai chatting, atau orang yang tidak percaya diri dengan penampilannya lebih baik tidak usah mendekati Tinder :p..

 

Yes selesai satu tulisan lagi.