Hidup dan Proses (English Version)

Life and Process

What i am now is shaped by years ago determinations and decisions. To worry and to doubt whether i decided them well or not is not excused.

Trust myself. Believe! it is not the result or the success i am looking for. Yet, always try my best in the process. Since in the process, i live and learn. Life is in the process and i have to be happy within it.

The end of the life is death, not a result or success. Thus, as long as i live, be in process.

Advertisements

Hidup dan Proses

Saya yang sekarang adalah bola-bola keputusan yang saya gulirkan bertahun-tahun yang lalu. Gentar tidak dipersilakan, merunut kembali awal mula mengapa saya menggulirkan keputusan-keputusan tersebut juga tidak diperkenankan.

Percaya. Bukan hasil yang harus dikejar, tapi berusaha yang terbaik dalam proses. Karena dalam proses itulah saya hidup dan belajar. Hidup dalam proses dan berbahagia pada proses itu.

Akhir hidup adalah mati, bukan hasil atau kesuksesan. Selama hidup, berproseslah.

Oshin! Where have you been?

Oshin! Kapan terakhir kali saya ngeblog? Lupaah~ Hehe dasarnya saya manusia kurang konsistensi. Ngomongnya kepengen rutin share sesuatu tentang Jepang dan kehidupannya di blog ini, baru sebentar aja udah melempem, ngilang. Rentang waktu ngepost satu tulisan ke tulisan yang lain jaraknya 1 tahunan 😀

Selalu saja saya sedikit merasa bersalah sewaktu ingin nge-blog di sini, secara saya nulis penelitian dan laporan saja belum bisa, kok lancar nulis blog, malu dengan diri sendiri karena tidak mampu menetapkan prioritas. Tetapi kali ini, ada sedikit perayaan dalam hidup saya yang ingin saya sampaikan, jadilah saya menulis lagi.

Hari ini saya akhirnya diperbolehkan mengumpulkan proposal penelitian yang akan saya presentasikan minggu depan, tanggal 23 Juli. Setelah berhari-hari saya ditempa ketegangan tingkat dewa, walau masih belum merasa puas dengan apa yang saya tulis, tetapi karena baginda dosen sudah menyetujui, maka dari itu saya mengumpulkan proposal penelitian dan mendaftarkan diri untuk seminar proposal tersebut.

Beribu-ribu kata saya tulis, saya ungkapkan tentang ketidakmampuan saya dan ketidakpercayadirian saya dengan bahasa Jepang saya, baru akhir-akhir ini saya sadari mungkin bagi orang-orang di sekitar saya, itu hanya dianggap keluhan dan denial belaka saja. Saya bukan orang yang suka beralasan dan menyalahkan keadaan tetapi kalau saya sudah terdengar seperti itu, saya benar-benar dalam masalah yang besar. Saya butuh bantuan dari orang lain, tetapi saya tidak mampu mengungkapkan bagian mana yang membutuhkan bantuan. Pengalaman sebelumnya saya kurang begitu percaya dengan orang lain dan dari lubuk hati saya, saya percaya kegagalan saya berbahasa Jepang adalah kesalahan saya belaka.

Semester ini saya harus mengumpulkan proposal penelitian, selama 3 minggu sekali saya diminta menulis dan kemudian harus dipresentasikan di depan kawan-kawan sekelas. Saya selalu berjuang menulis, tapi tampaknya bagi baginda dosen, saya masih belum menyentuh “inti” dari penelitian saya. Bisakah membayangkan? Percakapan sehari-hari dengan bahasa Jepang saja saya masih senat-senut seperti digigit semut, apalagi saya diharuskan menulis proposal penelitian dengan bahasa Jepang ilmiah? Stres.

Setelah pulang baito malam, saya berjuang untuk sekedar membaca. Buku bacaan dalam bahasa Jepang, dengan kanji, saya cari cara membacanya, dan artinya. Proses itu saja sudah makan waktu dan tidak ada jaminan saya hafal kanji-kanji tersebut dan maknanya, dan tidak ada jaminan saya mengerti apa yang dibicarakan buku tersebut. Untuk info saja, saya hanya belajar bahasa Jepang satu tahun di sini, hingga level N3, yang tentu saja tidak mencukupi untuk pelajaran S2 di sini. Stres.

Pada mata kuliah membaca, kami diharuskan membaca. Saya selalu berusaha untuk mempersiapkan diri sebelum kelas (kalau sedang semangat), tetapi kalau malamnya baito kecapekan, saya datang dengan buku referensi yang masih bersih (belum saya cari cara membaca kanji dan artinya). Karena teman sekelas rata-rata orang China, atau orang Indonesia dengan latar belakang bahasa Jepang, (D3 Bahasa Jepang atau S1 Sastra Jepang) tidak ada yang bermasalah dengan kanji dan bahasa Jepang, selain saya. Rasa hati ingin berteriak, “senseeeeei saya nggak mudeng sensei ngomong apa, ini buku ngomong apa”, tetapi kemudian terbungkam dengan statemen sensei “Ada yang mau ditanyakan? ada istilah atau kanji yang tidak dipahami? Tapi kalau terlalu banyak yang tidak diketahui juga tidak boleh ya” (hehe menerjemahkannya susah, dan saya juga lupa, intinya kaya gitu omongan sensei). Stres.

Dan karena 3 kali stres itu, dan kadang-kadang sakit juga, saya beberapa kali membolos kuliah. Mungkin karena saya murid spesial (spesial bodonya pake telor), setiap kali saya membolos baginda dosen selalu komplen ke senpai saya. Dan selalulah berkelanjutan drama yang sama. hehe. (akhirnya saya mengalami menjadi murid bodo yang jadi bahan pembicaraan, dikomplen dan dicari-cari dosen).

Saya pikir saya diberkahi doa mamah dan babe saya, sehingga walau sampai mawutnya seperti apa saya beberapa saat terakhir ini, saya masih ditunjukkan jalan oleh Allah swt. Kalau saya misalkan, selama ini saya duduk lama di lorong sempit yang terhalang batu besar, belajar, berpikir bagaimana cara menyingkirkan batu itu. Saya tidak menyadari bahwa saya tidak memiliki alat untuk menghancurkan batu itu, jadi sampai seminggu kemarin, saya konstan di tempat itu tanpa ada kemajuan, dan menjadi tertekan sendiri.

Sebenarnya lorong tersebut terdiri atas dua cabang, tetapi gengsi saya, saya merasa bahwa itu kewajiban saya untuk menyelesaikan masalah saya sendiri, saya malu dan tidak tahu bagaimana mencari bantuan. Tapi entah kenapa, saya terdorong untuk kembali ke ujung awal lorong, menemukan senpai-senpai, dan kemudian ditunjukkan bahwa lorong itu tidak akan membawa saya kemana-mana. Saya harus mencoba lorong yang satunya.

Bab saya menemukan senpai-senpai itu sebenarnya hari Rabu, minggu kemarin. Niat saya berlebaran, tapi kemudian saya menunjukkan proposal penelitian saya yang tidak kemana-mana. Kemudian senpai menelepon salah seorang sensei terpercaya yang sudah pensiun (sebenarnya sensei ini juga yang memberikan ide tema penelitian saya), saya banyak mendapatkan masukkan dari sensei tersebut. Setelah pertemuan dengan sensei, saya kembali ke rumah senpai dan mengaku kalau besoknya saya bakalan konsultasi lagi dengan baginda dosen. Lalu terjadilah gegap gempita diskusi tentang proposal saya tersebut, supaya setidaknya saya bisa menghadap baginda dosen dengan proposal yang sudah “jadi”. Karena pengakuan di ujung malam itu, saya membuat senpai-senpai tidak tidur, saya juga merasa bersalah.

Malam itu saya tidak tidur lagi, tetapi hasilnya, baginda dosen ikut berbahagia bahwa ternyata saya “tetap mengerjakan proposal saya”. Alhamdulillah.

Benar-benar saya bersyukur, saya menyadari bahwa saya tidak tahu apa-apa dan oleh karena itu saya butuh bantuan dari orang lain.

 

 

 

 

 

Persahabatan, Keterbukaan dan Golongan Darah

Kata sebuah akun facebook bernama “Sifat dari Golongan Darah”, saya termasuk orang yang hanya kelihatannya terbuka akan tetapi tidak benar-benar membuka diri terhadap orang lain. Saya tentu saja tidak sepenuhnya percaya, karena penggolongan suatu karakter pada jutaan manusia akan menjadi tidak akurat. Kadang saya bahkan menyalahkan kekuatan sugesti yang mendorong otak untuk menyetujui satu hal yang ditawarkan oleh penggolongan tersebut.

Tetapi mengingat sejarah saya di masa SD, SMP dan SMA, saya menjadi sedikit terpekur. Saya cenderung merasa tidak memiliki sahabat yang dekat, yang berbagi cerita & rahasia seperti film-film remaja..

Image

https://www.facebook.com/SifatDariGolonganDarah

Saya bahkan pernah berpikir “share dengan sahabat atau orang lain” itu tidak menyelesaikan masalah. Saran-saran mereka juga tidak selalu benar, karena mereka tidak berada di posisi saya, karakter dan kondisi umum mereka juga tidak sama. Walaupun pernah ada masa perasaan saya tumpah ruah di jejaring sosial, tetap saja curhatan itu tidak saya bagikan sepenuhnya bahkan saya kesankan supaya blur.

Pasca SMA, pikiran saya sedikit menerima dengan definisi sahabat. Saya merasa ada beberapa orang yang dekat dengan saya, berbagi cerita dan lain sebagainya, saya mengizinkan beberapa orang tersebut masuk ke dalam hidup saya walaupun masih banyak batasan-batasan yang saya tetap saya buat di antara kami. Tetapi berawal dari masa SMA itu, saya memiliki sahabat dengan makna persahabatan yang mungkin bagi orang lain aneh dan unik.

Saya tidak selalu share masalah saya ke sahabat saya, begitu juga sebaliknya


Saya tidak berpikir “sahabat adalah orang yang tahu segalanya tentang kita, dan kita juga tidak melulu harus tahu segala sesuatu tentang sahabat kita tersebut”. Saya menyadari setiap orang memiliki hak untuk mendapatkan space untuk menyimpan rahasia mereka sendiri, berbagi dengan orang2 yang dia inginkan untuk berbagi, yang kadang2 bukan kepada sahabatnya.

Tidak setiap hari kami harus berkomunikasi


Saya memiliki hidup sendiri, sahabat saya juga memiliki hidup sendiri. Kami hidup di dunia yang cukup berbeda, dan kebetulan hidup yang kami tekuni sama sekali tidak ada titik temunya. Kami bahkan tidak hidup di kota yang sama. Kami tidak setiap hari berkomunikasi, hanya pada momen2 tertentu kami bersapa. Dan dia tetap menjadi sahabat saya. Saya tidak suka kalimat, “kalau ada masalah baru dia datang”, karena naturally manusia memang seperti itu bukan? Manusia melakukan sesuatu karena memang manusia butuh sesuatu. Jadi saya selalu mewajarkan setiap orang yang datang ketika hanya “membutuhkan sesuatu”.

Tapi ketika kami bertemu, kami menjadi dua sahabat yang bahkan tidak akan merasa asing satu sama lain, walaupun kami tidak setiap hari berkomunikasi.

Bukan membenarkan pengkategorisasian ini, akan tetapi beberapa hal memang terasa benar. Walaupun saya menyadari sifat dan karakter saya tersebut, yang terkadang bagi orang lain menjadi suatu kelemahan, tidak bisa dipungkiri, saya tetap kembali menjadi sosok saya yang sebenarnya. Aman, sendiri.

Saya butuh suatu ruang yang memang dikhususkan untuk saya sendiri, tempat saya bersembunyi ketika saya merasa penat berinteraksi. Saya kurang suka seseorang (selain keluarga dan mungkin suami masa depan saya) mengetahui segala sesuatu tentang saya. Akan tetapi, kenyataannya, ketika saya harus menjadi mahkluk sosial, saya lumayan “luwes” berinteraksi, lumayan gampang berkenalan dengan orang-orang asing, berorganisasi, walaupun saya tidak mampu menjaga hubungan tersebut menjadi hubungan yang lebih akrab. :p

Saya jadi ingat, dulu semasa kecil, saya dan mbak Inta sering berebutan melarikan diri dari kewajiban untuk “menjawab telepon” atau “membuka pintu” ketika tamu datang berkunjung. Kami berlompatan ke kasur, lalu pura-pura tidur atau pura-pura mati sehingga salah satu dari kami yang terlambat “berpura-pura” terpaksa harus melaksanakan kewajiban tersebut.

Akan tetapi, jangan membayangkan kehidupan saya penuh kesendirian, di masa SMA, rumah saya sering menjadi tempat pelarian bagi berandal-berandal pembolos, atau menjadi tuan rumah untuk Nonton film bersama, setiap hari Sabtu 1 atau 2 kali dalam sebulan. Bahkan hingga kami lulus SMA, rumah saya masih sering menjadi tuan rumah bagi reuni buka puasa bersama, atau sahur bersama.

Saya tidak percaya pada ramalan (ramalan cuaca sih mungkin percaya), horoskop, penggolongan karakter dari golongan darah atau tanggal lahir, dll, akan tetapi ketika ramalan tersebut menyebutkan “kelemahan” dan kemudian saya sadari, saya anggap itu sebagai instropeksi yang bagus untuk diri, untuk ditelaah, untuk diperbaiki apabila mampu. Dan inilah, hanya dengan penggolongan darah akun facebook, saya menemukan diri saya.

Tulisan ini saya tulis sebelum berangkat ke Jepang, 8 Maret 2014.

Kecewa itu…

Saya orang yang jarang merasa kecewa dan merasa dikecewakan. Tapi hari ini saya merasa kecewa. Sekali. (disambung ya bacanya). Karena saya merasa “kecewa” dan bukan “dikecewakan”, maka sudah sah hukumnya bahwa saya merasa kecewa terhadap diri saya sendiri.

Karena merasa kecewa, seharian saya tidak bisa lepas dari rasa itu, dan kemudian saya merasa menyesal. Alasan utama yang membuat saya merasa kecewa dan menyesal adalah “bangun kesiangan”.

Sudah dua hari berturut-turut saya bangun kesiangan dan melewatkan 3 mata kuliah dalam seminggu. Bukan sok rajin, bukan sok-sok-an, tetapi memang benar saya merasa kecewa. Setelah saya merasa kecewa, kemudian saya merasa menyesal karena “bangun kesiangan” yang saya lakukan itu bukanlah murni bangun kesiangan. Saya sempat terbangun atau dibangunkan teman sekamar karena malam sebelumnya sudah berniat untuk bangun lebih pagi untuk belajar sedikit sebelum bersiap berangkat ke kampus. Tetapi sesaat setelah saya terjaga, otak saya yang masih dalam kabut mimpi, menunda untuk bangun. Itu yang membuat saya kecewa. Walaupun benak saya sedikit menenangkan, “ya gimana lagi, di luar kendali, kan?” tetapi tetap saja saya merasa menyesal karena dalam kondisi bangun itu, otak saya tidak menempatkan prioritas untuk belajar.

Saya kecewa, bagaimana mungkin jalanan mimpi hebat terlalui oleh orang seperti saya?

Semua orang juga kelelahan, semua orang juga bekerja keras, berusaha melalui jalan-jalan mimpi yang terjal. Tetapi mereka mampu mengalahkan ego mereka, kemalasan mereka, meneguhkan diri mereka dg passion yg mereka tanamkan dalam benak mereka untuk terus melangkah.

Bukanlah orang yang sukses atau mereka yang telah meraih mimpi2 yang membuat saya iri, tp mereka dg passion yg menggerakkan langkah hidup dan tetap di jalan itu dengan keteguhan hati, ketekunan dan kesabaran, yang membuat saya iri. Konsistensi, sepertinya tidak berada dalam kamus bahasa mimpi saya, dan harus senantiasa saya perjuangkan.

Belajar dari kesalahan, kemudian bersemangat untuk memperbaikinya. Saya tahu suatu saat saya pasti melakukan kesalahan ini lagi (hehe maklum, kalau sedang capek, saya benar-benar kurang bisa menyemangati diri untuk bangun #sigh), tetapi saya berjanji saya akan mengingat ini dan berusaha untuk lebih baik lagi.

Semangat.

*Tulisan ini telah hampir 4 bulan menjadi local draft di blog saya, saya tulis 11 Juni 2015.

Oshin Travels: Mystical Kyoto Second Day

I am sure not all travels are enjoyable even for those “real travelers”. Yet, all travels are meaningful. This what i felt back then visiting Kyoto in the second day. I was in a melancholic state that even my memory to Kyoto is kind of gloomy, cloudy and rain. Maybe that is the reason why i keep referring Kyoto with its mystical atmosphere.

I stayed at my acquaintance’s apartment in Kyoto. Her apartment near the Kyoto Imperial Palace. In the morning she took me to walk around the Palace (we only walk by its fortress :P).

Temple around

Temple around

Temple around

Temple around

Temple around

Temple around

The statue of Raccoon or

The statue of Raccoon or “Tanuki” in Japanese. It is believed that this creature is the guardian of the temple.

Kyoto Imperial Palace the fortress

Kyoto Imperial Palace the fortress

Kyoto Imperial Palace the fortress

Kyoto Imperial Palace the fortress

Kyoto Imperial Palace the fortress

Kyoto Imperial Palace the fortress

Kyoto Imperial Palace the fortress

Kyoto Imperial Palace the fortress

IMG_9004

Kyoto Imperial Palace the fortress

Kyoto Imperial Palace the fortress

Kyoto reveals something i have not yet noticed before: My eyes had never seen myself thus i couldn’t see that in fact there are beautiful parts of myself lie within me. Secondly, i found that i could be such a moron – powerless girl who could do even moron things. The moment i was in Kyoto was the regretful moment that every time i remember it, the pain comes at the same time.

From the morning walk, i took a bus to the Arashiyama Koen. I think i have seen some of pictures of this place. Arashiyama Koen is famous for its Bamboo Forest. Since i didn’t even bring a camera (i took it all by cell’s camera :p), I couldn’t get good pictures of this place (and also all the places i visited). Blame my attitude, but i couldn’t help, i am not a pro..

Arashiyama Koen

Arashiyama Koen

Japanese girls with Yukata (Kimono for Summer) It's not a rare thing to find Japanese youth walk leisurely with this traditional attire.

Japanese girls with Yukata (Kimono for Summer)
It’s not a rare thing to find Japanese youth walk leisurely with this traditional attire.

Bamboo forest

Bamboo forest

Bamboo forest

My capture was very bad. I intentionally did that, so that instead of enjoying my captures you would have to come by yourself to enjoy with your irreplaceable camera: your beautiful eyes! ;p

IMG_9034    IMG_9035

Arashiyama Koen is such a huge place to explore. After walking along the bamboo forest, there will be a village where a famous poet, Basho Matsuo often visited. Rakushisha, or translated into The Cottage of Fallen Persimmon, is the cottage where Basho Matsuo stayed during his visit in Arashiyama.

There are several stones with inscribed poem on them.

There are several stones with inscribed poem on them.

Rakushisha Residence

Rakushisha Residence

The ink, paper, books and also household are set to represent what Basho Matsuo used in his

The ink, paper, books and also household are set to represent what Basho Matsuo used in his “creating” time..

The cottage

The cottage

Rakushisha Residence

Rakushisha Residence

Rakushisha Residence

Rakushisha Residence

Slipper

Slipper

Rakushisha Residence

Rakushisha Residence

Rakushisha Residence

Rakushisha Residence

Traditional Hat

Traditional Hat

Keep walking, and we will find many handicraft shops along the way. I am deeply interested in a shop, which i think i kept his name card but i forgot where i put it. Remember, I was in a melancholic state, so don’t blame me for such lacking and un-detailed information :p

Along the way, you will be performed with such a breathtaking scenery

Along the way, you will be performed with such a breathtaking scenery

This is the shop i am talking about. Very unfortunate i forgot the artist's name card.

This is the shop i am talking about. Very unfortunate i forgot the artist’s name card.

His modest yet marvelous creation resembles his figure, really!

His modest yet marvelous creation resembles his figure, really!

He said himself, that selling these art works will not make his life but his passion keeps him creating these art works.

He said himself, that selling these art works will not make his life but his passion keeps him creating these art works.

He is also pro in setting the lighting to create a warm-adorable colors.

He is also pro in setting the lighting to create a warm-adorable colors.

If i am not mistaken, this work is used for tea ceremony?

If i am not mistaken, this work is used for tea ceremony?

Clueless with this works.

Clueless with this works.

IMG_9108

IMG_9111

The beauty!!

The beauty!!

IMG_9113 IMG_9117

Why didnt i realize? He might be speaking English well. Why did i speak with him in my random-Japanese??

Why didnt i realize? He might be speaking English well. Why did i speak with him in my random-Japanese??

IMG_9121

IMG_9122

IMG_9123

IMG_9124

IMG_9125

I am specifically interested to the simplicity of his art works. Not a coincidence, it is because i am studying Yanagi Muneyoshi and the Mingei theory which is the content mainly concerns on the beauty of simplicity.

On the way back to Kyoto the city, i had to walk, again, along the village to reach the road for a taxi or a bus. Since i was walking a lot, i found again these old beautiful architectures plus its small blocks/small paths.

Still in Arashiyama

Still in Arashiyama

Traditional architecture

Traditional architecture

Kyoto's traditional architecture is often found with these black and white painted architecture.

Kyoto’s traditional architecture is often found with these black and white painted architecture.

Arashiyama

Arashiyama

This wonderful paths i love the most.

This wonderful paths i love the most.

Still in Arashiyama

Still in Arashiyama

Still in Arashiyama

Still in Arashiyama

Still in Arashiyama

Still in Arashiyama

I know i am terrible in narrating my captures on Kyoto. That’s why i really want to go back to Kyoto once or more times to really explore the city and find the connection between me and the mystical Kyoto.

I cant wait.

Oshin travels: Mystical Kyoto First Day

It was around these days last summer, i had a rare opportunity to visit Kyoto. Basically, i am not that traveler type that’s why i didn’t have good initiations to record my visit. I have even almost forgotten that i have been there last year. I tossed away pictures on my mobile to my computer and forget it for a little while.

Might be the heat stroke did refresh my memory, i suddenly remember about my visit to Kyoto and feeling so guilty to keep it by my own. I took the 新幹線, the bullet train from Shin-Yokohama station to get Kyoto. It took about two and a half hour, such a long time to experience many things but the memory in the bullet train was not that good, so i don’t have much impression riding this bullet train which should have been my first time on board.

I have already mentioned that i am not that traveler type, so i didn’t record many detail things such as the bullet train’s ticket, what station did i pass, etc, etc. I may be mistakenly recognized my own picture with the correct name of a place or area. I was just such a random traveler :p

I know little, but im sure, i got off in Kyoto station.

CAM00380

Kyoto Station

Kyoto Station

It was very humid summer but when i reached Kyoto station, the weather turned into cloudy. My bad luck. Kyoto was my third city i have visited which is labeled as the cultural city. The first is Solo, second is St. Petersburg, Russia. These three cities are labeled as the center of culture in the respective countries. I found all of the three has its own characteristics. And Kyoto, its authenticity and its mystic atmosphere distinguish its characteristic from other cities.

Yasaka Shrine

Yasaka Shrine

Yasaka Shrine

Yasaka Shrine

Yasaka Shrine

Yasaka Shrine

Kyoto is famous for its Shrines and Temples. Once i got off the bullet train, i could just walk for several minutes to visit shrines. One of them is Yasaka Shrine.

The mystical beauty i found in Kyoto lies in its settlement and shops, and how they remained untouched by the modernity. They are very beautiful, very authentic.

Small blocks in the heart of Kyoto

Imagine you were here alone, take a deep breath! You are in Japan!!

Imagine you were here alone, take a deep breath! You are in Japan!!

Small blocks in the heart of Kyoto

Small blocks in the heart of Kyoto

Small blocks in the heart of Kyoto

Small blocks in the heart of Kyoto

Small blocks in the heart of Kyoto

Small blocks in the heart of Kyoto

Next destination is again, a shrine, namely Shimogamo Shrine. It was built 2000 years ago in the forest. It is a complex of shrines.

Shimogamo Shrine

Shimogamo Shrine

CAM00437

The magic spell

The magic spell

CAM00443

I wish you happy forever after!

I wish you happy forever after!

CAM00449

CAM00457

CAM00462

Next is Nanzen Temple. It is also a complex of temple. I came to this temple late afternoon, it was getting dark and some of the temple were closed so that i could only enjoy in a glance.

Nanzen Temple

Nanzen Temple

Nanzen Temple

Nanzen Temple

Nanzen Temple

Nanzen Temple

Nanzen Temple

Nanzen Temple

Irrigation in Nanzen Temple

Irrigation in Nanzen Temple

Nanzen Temple

Nanzen Temple

Nanzen Temple

Nanzen Temple

Nanzen Temple

Nanzen Temple

Nanzen Temple

Nanzen Temple

Nanzen Temple

Nanzen Temple

Nanzen Temple

Nanzen Temple

Nanzen Temple

Nanzen Temple

I departed from Shin-Yokohama station around 12.20 and when i reached Kyoto, it was in the late afternoon. That’s why the first day of Mystical Kyoto ends this way. I will display my gallery of Mystical Kyoto here in the blog. However, don’t expect my narration. It’s terrible. Just enjoy the pictures. 😀